Debat Istri Capres dan Cawapres Dipastikan Hoaks, Pengamat: Bisa Menambah Insentif Elektoral

TRIBUNNEWS

Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, Ganjar Pranowo dan Mahfud MD foto bersama usai pengambilan nomor urut Capres dan Cawapres 2024 di halaman Gedung KPU RI, Jakarta Pusat, Selasa (14/11/2023). Hasil pengundian nomor urut pasangan Capres dan Cawapres yaitu Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar mendapat nomor 1, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka mendapat nomor urut 2, Ganjar Pranowo dan Mahfud MD mendapat nomor urut 3. Tribunnews/Jeprima 

TRIBUNJATENG.COM – Debat istri capres dan cawapres peserta Pemilu 2024 dikabarkan bakal digelar selama masa kampanye.

Namun KPU memastikan jika hal itu adalah kabar bohong alias hoaks.

Pasalnya, dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (Pemilu) dan Peraturan KPU Nomor 15 Tahun 2023 tentang  Kampanye Pemilihan Umum, tidak ditemukan aturan maupun keterangan adanya debat istri para paslon di Pemilu 2024.

Meski begitu, wacana debat istri paslon sebagai bagian dari keluarga pada Pemilu 2024 sejatinya bisa dilakukan secara non-formal dan dikemas dalam sebuah diskusi santai sebagai cara populis untuk mempopulerkan capres cawapres itu sendiri.

Hal seperti ini sudah pernah digelar dalam kemasan santai. Memang bukan istri-istri paslon, tapi putri capres nomor urut satu, Anies Baswedan, Mutiara Annisa Baswedan dan putra capres nomor urut tiga Ganjar Pranowo, Muhammad Zinedine Alam Ganjar.

Mereka hadir dalam acara ‘MikirSantai PlayDay’ di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Baca juga: Gibran Rakabuming Raka Jadi Bintang Debat Cawapres: Inilah Analisa Pakar Bahasa Tubuh

Baca juga: Hasil Survei Terbaru paska Debat Capres Cawapres, Elektabilitas Siapakah yang Tetap Teratas

Baca juga: Baru Surat Suara DPR RI yang Sampai di KPU Demak, Empat Lainnya Menyusul

Apalagi saat ini, profil pendamping para paslon ini kerap menghiasi keberadaan paslon dalam berinteraksi dengan publik, baik itu dalam kapabilitas mendampingi, bahkan terjun langsung membantu kampanye paslon. 

Ditambah lagi, publik juga ingin tahu sejauh mana para pendamping calon pemimpin mereka punya kapabilitas untuk mendampingi kelak jika jadi pemimpin negara ini.

Lalu, apakah wacana debat atau diskusi non formal para istri paslon ini layak digelar dan punya efek positif bagi para paslon dalam menghadapi kontestasi Pemilu 2024?

“Kalau (debat/diskusi) non formal menarik tuh. Bisa menambah insentif elektoral,” ujar pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Gun Gun Heryanto, dalam keterangannya, dikutip Jumat (29/12/2023).

Debat Cawapres perdana pada 22 Desember 2023 dalam Pemilu 2024 (YouTube/KPU RI)

Dikatakannya, faktor para istri paslon bisa menjadi insentif elektoral kuat karena menampilkan harmonisasi keluarga, influence ke keluarga-keluarga muda dan juga basis massa perempuan. 

 Apalagi jika tema debat atau diskusi ini terkait dan menyentuh pada isu-isu di atas.

“Bisa menjadi insentif elektoral kalau tepat guna dan sasaran, misalnya kalau anak-anak paslon untuk mempengaruhi milenial dan gen Z,” tutur Gun Gun.

Soal ini, caleg perempuan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Dapil Jawa Barat (Jabar) 3, Camelia Panduwinata menyambut baik jika wacana debat atau diskusi istri paslon Pemilu 2024 secara non formal ini digelar.

Halaman selanjutnya

Halaman

12

Sumber: Tribunnews.com

BERITATERKAIT

Ikuti kami di

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *